23.9 C
Samarinda
Sunday, May 16, 2021

Aung San Suu Kyi Dikudeta Militer, Indonesia dan Singapura Prihatin

HEADLINEKALTIM.CO, JAKARTA – Pada Senin 1 Februari 2021, militer menangkap pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi. Kudeta militer ini sebagai bentuk penolakan militer atas hasil Pemilu setempat.

Indonesia dan Singapura menyatakan keprihatinan mendalam soal kudeta ini.
Selain Suu Kyi , militer Myanmar juga menangkap Presiden Myanmar Win Myint dan sejumlah tokoh senior partainya yang tengah berkuasa di pemerintahan, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD).

Kudeta berlangsung setelah militer Myanmar menolak mengakui hasil pemilu yang dimenangkan NLD.

Melalui pernyataan, Kementerian Luar Negeri RI menuturkan Indonesia mengimbau seluruh pihak di Myanmar bisa menyelesaikan sengketa pemilu melalui mekanisme hukum yang berlaku.

“Indonesia sangat prihatin atas perkembangan politik terakhir di Myanmar,” bunyi pernyataan Kemlu RI, dikutip dari CNNIndonesia.com.

“Indonesia mendesak semua pihak di Myanmar untuk menahan diri dan mengedepankan pendekatan dialog dalam mencari jalan keluar dari berbagai tantangan dan permasalahan yang ada sehingga situasi tidak semakin memburuk.”

Selain Indonesia, anggota ASEAN lainnya seperti Singapura juga menyatakan keprihatinan serupa atas kudeta Myanmar.

Dikutip Reuters, Kemlu Singapura menuturkan “keprihatinan mendalam” atas krisis politik yang terjadi di Myanmar.

Baca Juga  Sederet Fakta di Balik Penembakan Anggota TNI oleh Polisi di Jeneponto

“Singapura menyatakan keprihatinan mendalam terkait situasi terkini di Myanmar. Kami memantau situasi Myanmar dari dekat dan berharap semua pihak terlibat mau menahan diri dan mengutamakan dialog demi hasil solusi positif dan damai,” kata Kemlu Singapura.

Baca Juga  Bos Pinterest Ciptakan Aplikasi Pelacak COVID-19

Berbeda dengan Indonesia dan Singapura, Kamboja dan Thailand memilih tak ikut campur soal krisis politik yang tengah berlangsung di Myanmar.

Perdana Menteri Kamboja Hun Sen mengatakan kudeta militer yang terjadi di Myanmar merupakan urusan dalam negeri negara tersebut.

“Kamboja tidak mengomentari urusan dalam negeri seluruh negara, baik itu negara anggota ASEAN atau negara lainnya,” kata Hun Sen seperti dikutip Reuters.

Hun Sen sendiri telah menjabat sebagai pemimpin Kamboja sejak 1997 lalu.

Selain Kamboja, Thailand juga enggan mengomentari kudeta Myanmar.

“Itu urusan dalam negeri (Myanmar),” kata Wakil Perdana Menteri Thailand, Prawit Wongsuwan.

Berita sudah tayang di CNNIndonesia.com, Senin 1 Februari 2021 dengan judul “Indonesia-Singapura Prihatin Atas Kudeta Suu Kyi oleh Militer”

Komentar

- Advertisement -spot_img

LIHAT JUGA

- Advertisement -spot_img

TERBARU

spot_img
Komentar